Para “Pengkudeta” itu Akhirnya Meninggalkan Persepam

MADURAKU.COM – Achsanul Qosasi melepas klub sepak bola Persepam Madura United atas permintaan Pemkab Pamekasan berdasarkan desakan sekelompok orang yang tidak menginginkan AQ mengelola klub sepak bola itu.

Pengelolaan kepengurusan Persepam, secara resmi diserahkan dari PT Pojur Madura United (MU) kepada Pemkab Pamekasan dan Askab PSSI Pamekasan, di Pendopo Ronggosukowati, Pamekasan, yakni pada Hari Selasa tanggal 9 Desember 2014.

Penyerahan sepak bola kebanggaan Madura itu, dilakukan Achsanul Qasasi, selaku CEO PT Pojur Madura United, kepada Bupati Pamekasan, Achmad Syafii dan disaksikan manajer baru Persepam, MH Said Abdullah.

Di hadapan wartawan, Bupati Pamekasan Achmad Syafii kala itu mengatakan, meski pengelolan Persepam sudah diserahkan sepenuhnya kepad pemkab, namun Achsanul Qasasi, masih berkomitmen untuk mendukung dan membesarkan sepak bola di Madura.

“Alhamdulillah, walau Pak Achsanul bukan lagi sebagai manajer Persepam, namun beliau tetap bertekad memajukan sepak bola di Madura. Dan hari ini, kita bertiga sudah bertemu membahas langkah Persepam kedepan,” ujar Achmad Syafii.

Menurut Syafii, pertemuan segitiga antara AQ, dirinya dan MH Said Abdullah akan berdampak cemerlang bagi Persepam. Apalagi, AQ sendiri dengan rela hati nama Persepam MU tetap digunakan, dengan dalih bahwa nama itu sudah melekat sejak awal pada Persepam, termasuk pencinta sepak bola di Madura, maka pada kompetisi mendatang dan seterusnya, Persepam tetap bisa menggunakan nama Persepam-MU.

“Jadi brand P-MU ini sudah melekat di Persepam. Karena itu kami bicarakan dengan Pak Syafii dan Pak Said, kalau nama P-MU ini sudah mendarah daging pada Persepam. Masalah ini, sudah kami laporkan AFC dan ke FIFA. Nama Persepam MU ini untuk mempertahankan persatuan,” kata Ahsanul.

Said Abdullah sendiri kala itu setuju bahwa nama Madura United tetap digunakan, termasuk julukan klub sepak bola itu. Bahkan politikus PDIP itu menyatakan, PT apa yang akan menangani Persepam ini, ukuranya bukan karena PT Pojur atau PT lain, namun ukuran bagi ia bertiga, yakni Achsanul, Syafii dan Said Abdullah.

“Jadi, karena orientasinya sepak bola di Madura, maka bendera yang dipakai tetap menggunakan Persepam MU. Penggunaan nama P-MU, merupakan satu poin yang luar biasa bagi kami selaku manajer baru di Persepam,” ujar Said Abdullah, kala itu.

Pertemuan segitiga antara AQ, Said Abdullah dan Bupati Pamekasan Achmad Syafii pada 9 Desember 2014 di Pendopo Pemkab Pamekasan kala itu, seolah sudah menghapus rentetan peristiwa sebelumnya yakni upaya “kudeta” yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tidak ingin AQ menjadi pengelola Persepam, sehingga mendesak Pemkab Pamekasan agar meminta AQ mengembalikan Persepam ke pemkab dan Askap PSSI.

Kerelaan AQ menyerahkan brand klub yang sudah terbangun pada masyarakat Madura, termasuk nama Madura pada Persepam, menunjukkan bahwa yang bersangkutan lebih menginginkan agar Persepam tetap berkibar dan benar-benar menjadi kebanggaan rakyat Madura. Bagi “AQ” kudeta itu sudah tidak ada lagi, yang penting, nama Madura tetap eksis di kancah nasional melalui dunia sepak bola, yakni dunia yang menurutnya lebih baik dari pandangan sepihak orang di luar Madura tentang Madura.

Namun dalam perkembangannya, kesepakatan segi tiga 9 Desember 2014 itu berbeda. Sebab Said memilih jalan lain, yakni mendirikan PT sendiri sebagai pengelola klub, yakni PT Jempol Madura Utama dan mengganti Persepam Madura United menjadi Persepam Madura Utama dengan julukan klub yang juga berubah dari “Laskar Sape Kerrap” menjadi “Laskar Sape Ngamok”.

Tulisan “Madura” di dada pada jersey klub Persepam juga berubah menjadi “Said Abdullah”, dan demikian juga dengan jersey yang semula seperti kaos tradisional Madura menjadi liris panjang, kendatipun juga berwarna merah-putih. Semua tentang Madura yang sudah melekat pada masyarakat Madura saat kepemimpinan Achsanul Qosasi diubah dan menjadi serba baru. Alasannya satu, yakni harus serba baru, dan tidak boleh sama dengan sebelumnya.

Pengalihan kepemimpinan Persepam ini oleh sebagian orang dianggap sebagai angin segar untuk merubah Persepam menjadi lebih baik. Kelompok orang-orang yang melakukan ‘kudeta’ atas kepemimpinan AQ di Persepam juga mendapat tempat di manajemen baru dibawah naungan PT Jempol Madura Utama ini. Mereka adalah kelompok pembaharu, kelompok yang menginginkan perubahan atau kelompok yang seolah memiliki kepedulian pada Persepam, bukan kelompok yang hanya ingin mengambil keuntungan dari nama besar Persepam.

Di awal pergantian, performa “Persepam Baru” memang seolah lebih baik dibanding performa kepemimpinan AQ. “Ngamuk” bukan “Kerrap”, “Utama” bukan “United”, dan tulisan jersey klub diubah menjadi “Said Abdullah” bukan “Madura” lagi sebagaimana saat kepemimpinan Achsanul Qosasi. Serba baru dan serba berubah.

Identitas Madura yang menempel pada klub Persepam dan tidak digunakan lagi ini yang menjadi salah satu pendorong bagi Achsanul Qosasi untuk membeli klub sepak bola baru setelah klub yang dia kelola sebelumnya diminta dikembalikan ke Pemkab dan Askap PSSI Pamekasan.

Adalah Pelita Bandung Raya (PBR) yang kemudian dibeli oleh AQ dan diubah nama menjadi Madura United FC dengan julukan “Laskar Sape Kerrap”, yakni julukan Persepam yang dibuang oleh MH Said Abdullah dengan tulisan “Madura” tetap menempel di jersey klub dan jersey, seperti yang digunakan Persepam sebelumnya.

PT Polana Bola Madura Bersatu (PBMB) adalah PT yang digunakan untuk menaungi klub yang dibeli AQ untuk rakyat Madura tersebut. Di ISC 2017 dan kompelitisi resmi Liga Indonesia 2017, Madura United berhasil menunjukkan kemampuannya dan masuk dalam lima besar, sedangkan Persepam justru terdegradasi ke Liga 3 Indonesia.

Kondisi Persepam kian terpuruk, karena MH Said Abdullah telah membeli klub sendiri yang diberi nama Madura FC. Setelah terdegradasi, Persepam akhirnya diserahkan ke Pemkab dan Askap PSSI Pamekasan, meski pemkab tidak meminta Said untuk mengembalikan sebagaimana yang dilakukan pada AQ sebelumnya.

“Ya saya harus jantan. Datang tampak wajah, pulang tampak harus dengan tampak punggung,” kata AQ kepada wartawan dalam sebuah kesempatan.

Berbeda dengan pola penyerahan yang dilakukan AQ, pola penyerahan yang dilakukan manajemen PT Jempol Madura Utama secara diam-diam. Wartawan baru mengetahui beberapa setelah penyerahan, bukan dengan konferensi pers sebagaimana saat AQ menyerahkan Persepam ke Pemkab dan PSSI Pamekasan pada 9 Desember 2014.

Pada kompetisi resmi 2018 ini, Persepam juga mengikuti kompetisi. Hanya saja, klub ini sudah tidak bersinar seperti dulu lagi. Pemain dan pelatih tidak digaji dan suntikan danapun tidak ada, sehingga mereka harus meminta-minta untuk mengikuti kompetisi. Nasib yang sangat tragis.

Para kelompok pengkudeta “AQ” yang sebelumnya berteriak lantang mengaku peduli pada Persepam, sudah tidak nampak lagi, kecuali suporter fanatik yang bernama “Pamekasan X Fun” yang setia mendampingi Persepam meski dalam kondisi terpuruk seperti sekarang ini. (MADURAKU.COM)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.